
DURI, TRANSMEDIARIAU. COM - Peristiwa pilu menyelimuti keluarga Bapak Samosir, menyaksikan penderitaan bayi mereka yang baru lahir di RS Permata Hati Duri, Kecamatan Mandau. Setelah dilahirkan melalui proses Operasi Caesar Eracs, sempat bermalam dan mendapat perawatan di RS Permata Hati akhirnya meninggal dunia setelah dirujuk ke RS Awal Bross PekanBaru.
Keterangan dari orang tua bayi, bahwa Istri Pak Samosir, pada hari Rabu (14/01/2026) melakukan pemeriksaan dan pada Kamis pagi (15/01/2026) sekitar pukul 07.00 WIB
dilakukan Operasi Caesar Eracs.
Usai bayi lahir Ayah korban, Pak Samosir sempat bertanya pada petugas atas adanya kejanggalan memar membiru di bagian dada bayi.
"sempat saya tanyakan hal itu, pihak medis (dokter ) bilang itu tidak ada masalah," ucap Samosir meneruskan percakapan saat itu.
Sekitar pukul 09.00 WIB saya lihat anak saya badannya membiru. Saya tanya petugas, tapi mereka bilang 'tidak apa-apa, nanti ditindaklanjuti'. Namun selama dua hari dirawat, kondisi anak saya justru terlihat semakin sesak dan dadanya memerah seperti ada tekanan," ujar Samosir dengan nada kecewa.
Merasa khawatir dengan penanganan yang lambat, Pak Samosir sempat menawarkan agar anaknya dipindahkan ke kamar VVIP agar mendapatkan penanganan lebih intensif, meskipun ia menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Namun, pihak dokter RS Permata Hati menolak dengan alasan bukan masalah biaya, melainkan keterbatasan alat medis di rumah sakit tersebut.
"Kalau memang alat tidak lengkap, kenapa baru diberitahu setelah anak saya kritis di hari Jumat? Kenapa tidak dari awal saat badan anak saya membiru dan sesak?" keluhnya.
Baru pada Jumat sore (16/01/2026), pihak RS memutuskan merujuk bayi tersebut ke RS Awal Bros Pekanbaru. Dengan didampingi petugas RS Permata Hati 1 orang. Setibanya di Pekanbaru pada malam hari, dokter di RS Awal Bros menyatakan bahwa kondisi bayi sudah sangat kritis.
Setelah upaya penanganan selama dua jam, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia.

Ayah korban juga heran dan sedikit kecewa saat kepulangan jenazah dari Pekanbaru ke Duri, petugas/perawat RS Permata Hati juga meminta biaya ambulance sebesar Rp 1.500.000 .
"Kami merasa pihak RS Permata Hati hanya ingin lepas tanggung jawab dengan merujuk anak kami di saat kondisi sudah kritis., sempat memuntahkan cairan coklat.
Ditambah lagi, kami dibebankan biaya ambulance" tambah Samosir.
Keluarga Pak Samosir saat ini sangat berduka dan merenungi kejadian selama proses operasi, kurangnya kepedulian dalam pengawasan pasien, serta proses rujukan, sepanjang perjalanan menuju ke RS Awal Bros Pekanbaru bayi hanya diletakkan di box bayi.
"Kami tidak bisa berkata kata andai saja bayi kami di gendong saat perjalanan, mungkin tidak sekecewa ini. Bisa dibayangkan penderitaan anak bayi yang baru lahir dalam perjalanan yang cukup jauh dan hanya diletakkan di dalam box bayi," ujarnya kesal.
Saat dikonfirmasi, Kabag Humas RS Permata Hati, Maspal Yopi, SKM, menyatakan belum bisa memberikan keterangan mendalam, dan akan telusuri kepada anggota yang terkait.
"Saya belum bisa menjawab, nanti saya konfirmasi, dan saya telusuri dulu kronologis nya," ucapnya melalui panggilan WhatsApp.
(Vero)