Pilihan +INDEKS
Penyebab 21 Jemaat GPdI Keracunan Sate di Inhu Sulit Diuji Lab, Balai POM Beri Penjelasan
TRANSMEDIARIAU.COM, INHU – Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Kabupaten Indragiri Hulu mengungkap kendala dalam pengusutan kasus keracunan massal 21 jemaat GPdI Elshaddai Pematang Reba usai menyantap sate pada Rabu malam (22/10/2026).
Kepala Balai POM Inhu, Veramika Ginting, S.Si., Apt., M.H., mengatakan sampel sisa sate yang diduga menjadi sumber keracunan sudah tidak ideal untuk diuji secara mikrobiologi karena telah melewati batas waktu krusial.
“Jika sampel sisa makanan diserahkan setelah lewat 24 jam, uji mikrobiologi di Balai POM berpotensi diragukan atau bias, karena bakteri lain di luar penyebab utama sudah berpotensi tumbuh,” tegas Veramika, Sabtu (24/10/2026).
Akibatnya, untuk memastikan penyebab pasti keracunan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan mengalihkan pemeriksaan ke sampel biologis korban.
“Oleh karena itu, sampel biologis dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Lapkesda) Provinsi Riau oleh Dinkes Kabupaten Inhu untuk mendeteksi jenis bakteri atau racun spesifik,” jelasnya.
Sebelumnya, Balai POM bersama Dinkes Inhu dan Satpol PP telah melakukan sidak ke sarana produksi sate tersebut pada Jumat sore (23/10/2026).
“Kami sudah turun melakukan sidak bersama ke sarana produksi. Terhadap sarana tersebut, Dinas Kesehatan meminta untuk tidak melakukan aktivitas penjualan maupun produksi terlebih dahulu sampai hasil uji laboratorium keluar,” ujarnya.
Veramika menegaskan, kejadian ini menjadi pelajaran penting terkait penanganan KLB keracunan pangan. Ia mengimbau agar laporan dilakukan segera dan sisa makanan disimpan di freezer jika belum bisa diserahkan ke petugas.
Ia juga menyoroti lemahnya penerapan keamanan pangan pada usaha berisiko tinggi seperti olahan daging.
“Produsen wajib memahami prinsip keamanan pangan, mulai dari pemilihan daging segar, higienitas sanitasi tempat usaha, hingga penanganan suhu penyimpanan (freezer). Suhu beku sangat penting agar penanganan daging tetap higienis dan tidak mudah tercemar mikroba,” tegasnya.
Untuk masyarakat, ia berpesan agar tidak ragu membuang makanan yang mencurigakan.
“Jika makanan sudah mengeluarkan bau tidak sedap, tekstur berubah menjadi berlendir, atau rasanya janggal, segera hentikan konsumsi. Jangan pernah disayangkan untuk dibuang, sebab risikonya sangat fatal bagi kesehatan,” pungkasnya.
Sementara itu, saat ini, sebanyak 15 korban masih dalam penanganan di RSUD Indrasari Rengat. Dinkes Inhu sendiri telah menetapkan kasus ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan menanggung seluruh biaya pengobatan TMT KLB melalui anggaran Pemda.
Berita Lainnya +INDEKS
Bupati Kasmarni Dukung Percepatan Pengeboran Migas, Dorong Kepastian Bagi Hasil untuk Daerah Penghasil
MANDAU, TRANSMEDIARIAU. COM – Percepatan pengeboran minyak dan gas bumi.
Perkuat Sinergi dengan Stakeholder, PLN ULP Air Molek Edukasi Keselamatan Ketenagalistrikan
TRANSMEDIARIAU.COM, INHU – PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (UL.
Kemarau Berkepanjangan, Warga Tanjung Dua Krisis Air Bersih, Pemdes Selayar Gali Sumur.
TRANSMEDIARIAU.COM, Lingga – Cuaca panas yang berlangsung berkepanjangan menye.
APBD-P 2026 Ditolak, Pemkab Inhu akan Konsultasi ke Pemprov Riau
TRANSMEDIARIAU.COM, INHU — Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menyikap.





